Sahabatku,
Jauh sebelumnya solusi tlah ku kumandangkan demi asa damai dan kelangsungan cita, ku tawarkan meski terus tergilas kepongahan, jiwa tetap rela menerima keadaan, ku pinta sekelumit kata tuk jelaskan penzaliman, namun alasan demi alasan yg terlontar hanyalah pembenaran semata, dan jiwa raga pun kian tersudut pada ketidak pahaman keadaan, upayaku pun hanya menghindari konfrontasi dengan menyadari bahwa smuanya adalah takdir dari-Nya.
Sahabatku,
Tulusnya kasih tak bergeming meski perih bermukim di sana, batin meragas sendu, berteman rinai bening yg meretak mengolam, jiwa raga tetap menjujung arti kebersamaan, menghargai kekerabatan, walau hidup dalam anggapan bumerang dengan tumpuan kesalahan yg kian menggunung.
Sahabatku,
Bersama perihnya luka yg tak di mengerti, jiwa raga ini tetap wujudkan tanggungjawab walau pijar gemintangku tak seindah dulu, duduk dan berdiri, melangkah dan diam dlm kekalutan antara tulusnya cinta kasih, ego dan eksistensi yg terkadang meledak emosi.
Sahabatku,
Bicaralah, katakanlah, apapun yg dilontarkan, jawaban tepatku hanya diam dan tak ingin lagi ada luka.
Sahabatku,
Jika saatnya tiba, dikala kejora masing-masing berpijar, hanya ada serangkum kata dan serangkai ucap yg dapat ku persembahkan tuk merampungkan semua dilema yg tak dipahami.
Sahabatku,
Walau segelintir hati tetap inginkan jurang membentang, membiarkan diri dlm kontaminasi keadaan, buyarkan asa kebersamaan, melarutkan semuanya dalam waktu tanpa interaksi, jiwa ini kian membentuk karang, diam dalam hempasan ombak meski buih solusi menghantam, ku tetap diam tak bergeming tanpa suara, sudah ku cukupkan upaya menempuh jalan itu.
Sahabatku,
Izinkan jiwa ini pamit, relakan raga ini melangkah, gapai kejora di negeri rantau. Meski torehkan luka di hatimu, tekadku tlah bulat, keyakinanku tlah utuh, nun jauh disana kan ku bangun gempitaku, ku raih pijar gemintangku, walau tinggalkan sakit di sanubarimu, namun rindu yg mempusakai derita sakit terus berkalang menuntun, kokohkan kembali pijakanku, terbangun, tersengat refleks motorik kehidupan, dengan meminta pada-Nya, bentangkan kembali sayap malaikat-Mu yg tertutup durja airmata yg membelah angkasa.
Sahabatku,
Keramahan semesta mengaliri persendianku, merasuk sum-sum, bangkitkan pancasona, tersenyum dan bangkit menggapai mutiara di ufuk senja, menantiku bersama kilau sapta pesona, tanpa iringan kidung surgawi pun ku tetap berlari, demi panggilan Ilahi pada pusaka atas bekas diri insani.
Sahabatku,
Namamu takkan pupus dalam nuraniku, lestari di patrian yg tertuang dalam tulusmu, di Masyhar nanti kan bersinar di wajahmu, dengan kilau cahaya pesona ketulusan dan keteguhanmu, aku kan mengenalimu.
Sahabatku,
Sepedih-pedihnya luka batin, kelak kan berganti kebahagian dan kedamaian, demikian pula sebaliknya. Selagi kita di dunia, suka duka kan datang tepat waktu, silih berganti, berakhir tak menentu, pergi tanpa di pandu.
Sahabatku,
Izinkan aku melangkah...
@For My Frend
resources : Adjier Ariesman @ http://www.facebook.com/home.php?#!/note.php?note_id=494129060560
Tidak ada komentar:
Posting Komentar